saat saya melamun , muncul ide yang semalaman menari-nari di kepala. Ide tentang bohong. Apa itu bohong? mengapa kita bohong? kapan dan kepada siapa kita bohong? Mempertanyakan kebohongan sama pentingnya dengan menuntut kejujuran, lebih jauh lagi mempertanyakan kebenaran. Seperti ditulisnya dalam catatan “Kapan ke paris Lagi”, ada 3 alasan kenapa perilaku bohong makin marak dilakukan orang. Pertama, nilai kejujuran dalam masyarakat semakin turun, merendah, dan mungkin saja musnah. Penyebabnya adalah banyak orang mulai berpikiran, kalau mereka tidak berbohong maka mereka yang akan dibohongi. Dalam dunia yang semakin kejam saja, curiga menjadi panglima. Tak ada informasi yang benar-benar bisa dipercaya, terutama dari media, pejabat negara, dan oknum alim ulama.
Kedua, ketidakmampuan bahasa dalam mewakili makna dari apa yang kita pikirkan. Sebut saja, kata ‘makan’ bisa merujuk pada aktivitas memasukkan sesuatu ke dalam mulut atau menghabisi/mengganyang lawan. Makan yang bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut pun masih bisa dibedakan lagi sesuai jenis makanan dan cara memasukkan. Ada makan berat ada makan ringan. Dari cara memasukkan ada yang disebut menelan,mencaplok, mengunyah, mengemil. Itu baru satu kata ‘makan’, belum lagi kata cinta/bercinta. Alamak! (cuih)
Kata selalu mereduksi makna. Artinya bahwa ketika kita sudah meng-enkode pikiran ke dalamkata, ada sebagian makna yang tak terwakili. Sehingga kata/kalimat yangkita sampaikan tidak sepenuhnya jujur sesuai apa yang ada di pikiran kita. Selalu ada potensi kebohongan dalam perkataan yang jujur, seberapapun porsinya. Begitu pula sebaliknya.
Parahnya, ini alasan yang ketiga, kebohongan sangat mudah menular semudah orang menguap (bahasa Jawanya angop). Bohong adalah wabah yang sangat mudah menjangkiti peradaban manusia. Bohong juga mudah meningkat dalam hal kuantitas maupun kualitas. Ketika satu kebohongan terjadi, ia akan diikuti oleh kebohongan-kebohongan berikutnya. Jika sudah begitu akut, kita tak kuasa lagi menghentikan bola salju kebohongan yang semakin menjadi-menjadi.
Kok bisa? di sinilah hal yang menariknya !
contoh:
“Mau kemana Sus?” tanya Dwi sepenuh hati
“Ya pulang lah!” ketus jawab Susi
“Pulang bareng yuk!”
“duluan aja deh. Aku masih nunggu”
“oh ya sudah”
Sesaat setelah Dwi hilang dari pandangan, Susi pun bergegas pulang sendirian
Apakah Susi berbohong pada Dwi? Tidak. Susi jujur ketika dia menolak ajakan pulang dengan alasan masih nunggu, menunggu Dwi pulang maksudnya. #ini juga kisah bohongan ko kalu mau yang nyata perhatikan saja pola tingkah penjabat negeri kita.
bohong sebagai budaya. Adakah suatu budaya di dunia yang melestarikan kebohongan sebagai praktek nilai? Jawabnya ada, ya Indonesia khususnya negara bagian Jawa. Orang Jawa terkenal dengan sikap
"nggih nggih ora kepanggih " Jawaban iya belum tentu berarti iya. Jika ada 2 orang baru kenal maka pertanyaan standarnya adalah ‘Apa kabar’ yang akan dijawab dengan kalimat ‘Baik-baik saja.’ Apakah yang bertanya benar-benar ingin tahu kabar dari orang yang ditanya? Jawabnya tidak. Apakah kabar orang yang ditanya benar-benar sedang baik? Belum tentu. Tanya jawab ini hanya sekedar pembuka pembicaraan tanpa ada atensi lebih jauh.
bohong sebagai peran. Hidup adalah panggung sandiwara, contoh saya yudi azis dalam lagunya, dan orang lain sebagai aktornya. Dalam hidup kita memainkan berbagai peran sekaligus. Di rumah kita memainkan peran sebagai anak, sebagai kakak atau adik. Di sekolah kita berperan sebagai siswa/mahasiswa. Allah, tuhannya orang Islam, malah lebih jelas menyebut kehidupan di dunia sebagai laa'ibun (permainan), laghwun (senda gurau),mataa'un(bersifat sementara), dan ghuruur (tipuan/bohongan) . Maka tak heran jika manusia disebut sebagai homo ludens (makhluk yang suka bermain).
Karena hidup hanya permainan dan permainan selalu bukan kehidupan yang sebenarnya (bohong-bohongan), bisakah kita menyimpulkan bahwa kita hidup selamanya dalam kepura-puraan, kebohongan? Tetapi bukankah kita dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan? Ah apa sih maunya Tuhan?!
terakhir aku ingin menyatakan pada kalian bahwa dengan menuliskan ini "aku jujur dalm kebohongan"
Kedua, ketidakmampuan bahasa dalam mewakili makna dari apa yang kita pikirkan. Sebut saja, kata ‘makan’ bisa merujuk pada aktivitas memasukkan sesuatu ke dalam mulut atau menghabisi/mengganyang lawan. Makan yang bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut pun masih bisa dibedakan lagi sesuai jenis makanan dan cara memasukkan. Ada makan berat ada makan ringan. Dari cara memasukkan ada yang disebut menelan,mencaplok, mengunyah, mengemil. Itu baru satu kata ‘makan’, belum lagi kata cinta/bercinta. Alamak! (cuih)
Kata selalu mereduksi makna. Artinya bahwa ketika kita sudah meng-enkode pikiran ke dalamkata, ada sebagian makna yang tak terwakili. Sehingga kata/kalimat yangkita sampaikan tidak sepenuhnya jujur sesuai apa yang ada di pikiran kita. Selalu ada potensi kebohongan dalam perkataan yang jujur, seberapapun porsinya. Begitu pula sebaliknya.
Parahnya, ini alasan yang ketiga, kebohongan sangat mudah menular semudah orang menguap (bahasa Jawanya angop). Bohong adalah wabah yang sangat mudah menjangkiti peradaban manusia. Bohong juga mudah meningkat dalam hal kuantitas maupun kualitas. Ketika satu kebohongan terjadi, ia akan diikuti oleh kebohongan-kebohongan berikutnya. Jika sudah begitu akut, kita tak kuasa lagi menghentikan bola salju kebohongan yang semakin menjadi-menjadi.
Kok bisa? di sinilah hal yang menariknya !
contoh:
“Mau kemana Sus?” tanya Dwi sepenuh hati
“Ya pulang lah!” ketus jawab Susi
“Pulang bareng yuk!”
“duluan aja deh. Aku masih nunggu”
“oh ya sudah”
Sesaat setelah Dwi hilang dari pandangan, Susi pun bergegas pulang sendirian
Apakah Susi berbohong pada Dwi? Tidak. Susi jujur ketika dia menolak ajakan pulang dengan alasan masih nunggu, menunggu Dwi pulang maksudnya. #ini juga kisah bohongan ko kalu mau yang nyata perhatikan saja pola tingkah penjabat negeri kita.
bohong sebagai budaya. Adakah suatu budaya di dunia yang melestarikan kebohongan sebagai praktek nilai? Jawabnya ada, ya Indonesia khususnya negara bagian Jawa. Orang Jawa terkenal dengan sikap
"nggih nggih ora kepanggih " Jawaban iya belum tentu berarti iya. Jika ada 2 orang baru kenal maka pertanyaan standarnya adalah ‘Apa kabar’ yang akan dijawab dengan kalimat ‘Baik-baik saja.’ Apakah yang bertanya benar-benar ingin tahu kabar dari orang yang ditanya? Jawabnya tidak. Apakah kabar orang yang ditanya benar-benar sedang baik? Belum tentu. Tanya jawab ini hanya sekedar pembuka pembicaraan tanpa ada atensi lebih jauh.
bohong sebagai peran. Hidup adalah panggung sandiwara, contoh saya yudi azis dalam lagunya, dan orang lain sebagai aktornya. Dalam hidup kita memainkan berbagai peran sekaligus. Di rumah kita memainkan peran sebagai anak, sebagai kakak atau adik. Di sekolah kita berperan sebagai siswa/mahasiswa. Allah, tuhannya orang Islam, malah lebih jelas menyebut kehidupan di dunia sebagai laa'ibun (permainan), laghwun (senda gurau),mataa'un(bersifat sementara), dan ghuruur (tipuan/bohongan) . Maka tak heran jika manusia disebut sebagai homo ludens (makhluk yang suka bermain).
Karena hidup hanya permainan dan permainan selalu bukan kehidupan yang sebenarnya (bohong-bohongan), bisakah kita menyimpulkan bahwa kita hidup selamanya dalam kepura-puraan, kebohongan? Tetapi bukankah kita dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan? Ah apa sih maunya Tuhan?!
terakhir aku ingin menyatakan pada kalian bahwa dengan menuliskan ini "aku jujur dalm kebohongan"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar